Demi Masa

MENSUCIKAN HATI DALAM MENGGAPAI RIDHO ILAHI

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Kesalahan Dalam Mendidik Anak
Oleh : Ahmad Riyadi, S.Pd.I
Malu bertanya sesat di jalan, ungkapan ini merupakan bahasa sindirian kepada mereka yang malu atau tidak mau tahu tentang bagaimana cara mendidik anak secara benar. Yang akhirnya berakibat penyesalan yang berkepanjangan ketika anaknya, si buah hati telah terjerumus kedalam perilaku yang menyimpang ( penyakit sosial ), bahkan membuat orangtua putus asa seolah tidak ada harapan hidup, kepada anak yang menjadi harapan penerus orangtua ketika ia sudah usia senja.
Meski begitu besar tanggung jawab dalam mendidik anak, namun banyak orang tua yang melalaikannya, bahkan menganggap enteng amanah tersebut dan tidak memelihara dengan sebaik – baiknya. Mereka telah menelantarkan anaknya, mengabaikan pendidikannya, tidak memperhatikan mereka, dan tidak pula mengarahkannya. Begitu melihat benih – benih penyimpangan dan kenakalan pada anak – anak mereka, mulailah mereka menghardiknya. Mereka tidak menyadari penyebab kenakalan dan penyimpangan itu akibat kelalaian mereka sendiri. Dibawah ini kita akan ungkap sebagian bentuk – bentuk kelalaian yang terjadi pada pendidikan anak, antara lain :
1. Membiasakan anak menjadi penakut dan minder alias tidak percaya diri.
Orang tua sering menakuti – nakuti anaknya dari kecil, contohnya ketika ia masih bayi sudah ditakuti “ kalau tidak bobok akan digigit nyamuk “, ketika ia menginjak usia 2 – 3 tahun ia di takuti kalau nangis terus akan di gendong ondel – ondel,  ketika malas makan ia akan berkata “ biarin nanti kalau sakit akan disuntik pak dokter, kalau ia malas tidur ditakuti “ awas ada hantu genderuwo “ dan lain sebagainya, sehingga anak tumbuh dari kecil sudah diliputi rasa cemas, gelisah dan ketakutan yang menyebabkan terbiasa tergantung kepada kedua orang tuanya. Inilah awal malapetaka yang dialami anak sehingga anak tidak berani mencoba, tidak percaya akan kemampuan dirinya sehingga ia menjadi anak yang mudah tergantung kepada orang lain, sehingga munculah mental peminta ( pengemis), kalau mengerjakan ulangan di bangku sekolahnya ia akan mudah menyontek hasil ulangan temannya. Pengaruh sisi negatif pada anak penakut adalah mudah panik dan gugup ketika melihat kejadian yang masih terbilang wajar tetapi ia akan bikin heboh semua orang.
2. Mendidik anak bersikap ceroboh, ceplas – ceplos, dan mengganggu orang lain, namun menganggapnya suatu keberanian.
Ini merupakan kebalikan dari sikap point pertama. Adapun sikap yang tepat bagi orang tua adalah mengarahkan kepada anak untuk bersikap pertengahan dari keduanya. Yakni, mendidik anak untuk bersikap berani tetapi tidak berlebihan ( over ).
3. Mendidik anak tidak berpendirian, indisipliner, serta membiasakan mereka hidup mewah, nyaman dan berlebihan.
Anak yang terbiasa terdidik dengan pola seperti ini akan mengalami dissosial dengan teman – temannya, dibenak pikirannya hanyalah kesenangan pribadi semata, ia tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain. Ia menjadi anak yang sulit berbagi dan sikap egois dan individual lebih dominan kepadanya, sehingga ia terbentuk menjadi pribadi yang pelit, suka instan menghadapi masalah dan tidak melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.

4. Sikap orang tua terlalu keras dan kaku.
Sikap orangtua semacam ini dapat dilihat dari sikap dan perilaku kasar mereka kepada anak – anaknya. Entah memukul terhadap anak – anak ketika berbuat kesalahan meskipun sekali saja, atau mencela dan mencaci maki pada setiap kekurangan yang kecil maupun yang  besar, atau sikap – sikap keras lainnya. Anak yang terpola pendidikan dengan kekerasan akan berpengaruh jiwanya sehingga ia akan muncul benih sikap psikopat pada dirinya.
5. Berlebihan dalam berbaik sangka kepada anak.
Sebagian orangtua berlebihan dalam berbaik sangka kepada anak- anaknya, sehingga  tidak menanyakan keadaan mereka, tidak mau tahu tentang keadaan mereka ,apalagi menayakan teman – teman mereka. Tipe orangtua seperti ini tidak mau menerima kritik yang ditujukan kepada anak – anaknya. Jika terjadi suatu permasalahan terhadap anknya atau penyimpangan yang dilakukan oleh anaknya, kemudian sang ayah diperingatkan tentang permasalahan tersebut ia bela mati – matian, dan mencari alasan membenarkan perilaku anaknya, dan tidak jarang balik menuduh orrang yang memberi peringatan kepada anknya yang ceroboh, tergesa – gesa  atau seorang yang turut campur dalam urusan yang bukan wewenangnya.
6. Mengabulkan semua permintaan anak.
Sering terjadi, bahwa anak – anak yang masih kecil meminta sesuatu kepada ayah atau ibunya, ketika keduanya menolak permintaannya ia serta merta menangis tanpa henti – henti sampai dikabulkan permintaanya, ketika orang tua mengalah dalam masalah ini, baik karena alasan sayang kepada anak atau alasan – alasan yang lainnya. Maka hal ini justru dapat menyebabkan ketidakmandirian dan kelemahan pada anak sehingga ia menjadi tantrum dan memiliki senjata, jika ia memiliki keinginan maka harus dipenuhi kalau tidak ia akan langsung menangis.
7. Memanjakan anak dan menuruti semua keinginannya.
Ada sebagian orangtua yang menuruti keinginan apa yang diminta anaknya, tidak ada satupun permintaan yang ditolak. Tipe orangtua seperti ini terlalu berlebih – lebihan dan tanpa perhitungan dengan memberikan segalanya kepada sang anak. Melihat orangtua seperti ini , sang anak akan terbiasa menghamburkan harta dan membelanjakan hanya sekedar menuruti kesenangan nya semata. Hal ini akan membuat mereka semakin buta dan tidak peduli dengan nilai harta, serta tidak dapat menggunakan harta yang dimilikinya dengan baik.

Maroji’ Kitab :   At – Takshiir Fi Tarbiyatul Aulad, Muhammad Bin Ibrahim Al- Hamd,
                                Tarbiyatul aulad, Dr. Nashih Ulwan,
                                Mendidik anak agar cerdas dan berbakti, Prof. Dr. Muhammad Ali Mushofi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar